Gak Umume Wong

Pada suatu hari, aku bercakap-cakap dengan seorang warga sebuah desa, mulai dari masalah pekerjaannya hingga ke masalah-masalah lainnya. Ternyata dia seorang yang berbeda, tidak seperti kebanyakan manusia.

Pekerjaannya sebagai sopir angkot, walaupun penghasilannya tidak membuat kantongnya tebal, dijalaninya dengan bahagia. Hari-harinya yang pas-pasan tidak membuatnya minder dan gelisah.

Dalam kesederhanaan kehidupannya, ternyata dia berani menantang arus, dia tidak mau mengikuti adat yang biasa dilakukan masyarakat pada umumnya. Begitulah, dia cerita sendiri kok, kalau dia tidak mengikuti adat masyarakat setempat sampai-sampai dia dikatakan sebagai “gak umume wong”, atau tidak umumnya orang.

Dia bercerita, bahwa dulu di kampungnya ada seorang yang kaya raya tapi orang tersebut tidak mau mengikuti adat yang berlaku dalam masyarakat. Sehingga orang itu pun jadi bahan gunjingan dan mendapat julukan yang sama, yaitu sebagai “gak umume wong”.

Sebelumnya saya pikir masyarakat memandang bahwa orang yang baik itu, atau orang yang terpandang itu, adalah orang yang berharta banyak. Saya berpikir demikian karena sifat dari harta yang begitu menyilaukan pandangan kebanyakan manusia.

Namun menurutnya tidak demikian, tapi menurutnya orang yang baik di mata masyarakat adalah yang mau mengikuti adat masyarakat setempat. Orang yang baik dalam pandangan masyarakat, adalah yang bisa gaul, ke sini bisa, ke sana bisa. Meskipun kaya raya, tapi jika tidak mau mengikuti adat, maka dia akan dicap jelek oleh masyarakat, dia akan distempel sebagai “gak umume wong“, alias tidak umumnya orang.

Lihat, rupanya teman ngobrol saya ini menyadari betul kalau dia sendiri termasuk yang mendapat gelar sebagai “gak umume wong“, dan dia paham betul apa yang menjadi penyebabnya. Namun dia tetap mantap menjalaninya, meskipun berbagai cemoohan ditujukan padanya, bahkan meskipun dia dikucilkan oleh masyarakat sekitarnya. Luar biasa!

Apa sih rahasianya? Setelah saya korek ternyata keteguhannya tersebut karena dia memiliki sebuah prinsip bahwa yang harus dicari itu ridha Allah, bukan ridha masyarakat. Sehingga dengan demikian yang harus diikuti itu adalah tuntunan Allah bukan tuntunan masyarakat, yang harus diikuti itu aturan Allah bukan aturan masyarakat atau adat masyarakat. Karena baginya Allah di atas segala-galanya, yang tidak akan disekutukannya dengan apa pun. Sudah jadi tekadnya bahwa dia hanya mengabdi kepada Allah saja. Hebat!

Pos ini dipublikasikan di Renungan dan tag , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Gak Umume Wong

  1. Pakez berkata:

    manusia yg teguh dg prinsipnya

    ==============================
    Admin :
    Benar sekali

  2. Num Lew berkata:

    manusia yang demikian memang jarang, karena “gak umume wong”

  3. anung umar berkata:

    kalau seseorang itu punya prinsip dan ketegasan, insya Allah orang-orang juga akan menghargai

  4. Gue berkata:

    Jangan takut beda asal benar

  5. Khoir berkata:

    DI JAMAN SEKARANG ORANG YANG BERPEGANG TEGUH KEPADA KEBENARAN AKAN MENJADI ORANG ASING

Silakan Komentar dengan Sopan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s