Taklid Buta (lanjutan)

Jadilah kau ekor gajah, meskipun kau hanya ekor, namun kau bagian dari gajah yang besar. Begitulah saran seseorang kepadaku. Kita itu ilmunya masih sedikit, membuat jalan sendiri tentu mustahil, makanya ikutilah imam-imam yang sudah ada, menurutlah kepadanya meskipun bertentangan dengan akalmu. Demikian dia melanjutkan nasihatnya. Jalan menuju surga itu sulit, lebih baik kau mengikut saja sama yang sudah jelas jalannya. Katanya lagi. Udahlah taklid aja lebih aman …

Nasihatnya berpengaruh padaku, akhirnya mulailah aku menjadi seorang taklid-er. Setiap ada permasalahan, maka aku selalu mencari bagaimana jawabannya menurut imam mahzabku. Aku tidak peduli dengan pendapat yang selainnya …

Demikianlah perkembangan pemikiranku …

Demikianlah, hari-hari kulalui, aku bagaikan robot, aku bukan diriku sendiri, aku berbuat sesuai petunjuk orang lain …

Hingga pada suatu hari, aku melihat seekor semut, meskipun kecil, ia bebas ke sana ke mari, aku pun berfikir, berfikir dan terus berfikir … sesuatu yang jarang kulakukan, karena biasanya aku tinggal taklid aja tanpa berfikir … yah aku pun berfikir, aku pun merenung …

Ada teka-teki dibenakku, “Lebih bagus mana, jadi ekor gajah atau kepala semut?”

Dalam perenunganku yang panjang, akhirnya aku mantap dengan jawabanku, bahwa lebih baik jadi kepala semut, walaupun hanya kecil, tapi jadi bagian kepala, bukan ekor, meskipun itu ekor gajah, sesuatu yang besar, aku lebih memilih jadi kepala, aku lebih memilih jadi pengendali atas diriku, aku ingin jadi diriku sendiri, aku adalah aku …

Aku teringat bahwa kelak di akhirat semua manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri-sendiri, artinya kita harus bisa mempertanggungjawabkan diri kita sendiri, kita tidak bisa melemparkan tanggung jawab tersebut kepada orang lain … mengapa kamu begini,  maka kita sendirilah yang akan menjawabnya, bukan orang lain, bukan imam-imam mazhab, bukan nenek moyang, bukan pula orang tua kita, bukan ustadz kita, bukan siapa-siapa, tapi pertanyaan kelak ditujukan pada diri kita, kita sendiri yang harus menjawabnya.

Jika aku yang harus mempertanggungjawabkannya, maka aku yang harus mengendalikannya …

Kini aku pun berubah …

Taklid Buta kini sudah menjadi masa lalu …

Pos ini dipublikasikan di Renungan dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Silakan Komentar dengan Sopan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s